Selasa, 06 November 2012

Sejarah Singkat Kota Manado

Nama Kota Manado menurut tutur legenda yang diceritakan berasal dari bahasa Etnik Toutemboan Minahasa yaitu "Manarow” yang artinya "Pergi ke Negeri Jauh". Dalam versi Bahasa Sangir Tua disebut Mararau; Marau yang artinya Jauh. Selanjutnya nama Manado dahulu kala dihubungkan dengan nama lokasi Wenang atau lengkapnya Wanua Wenang yang menurut legenda didirikan oleh seorang tokoh dari Walak Ares bernama Dotu Lolonglasut. 

Kata Wenang diambil dari nama sejenis kayu, yakni Macaranga Hispida yang banyak tumbuh pada masa itu. Kayu sejenis ini kulitnya sangat berguna sebagai bahan penyamak jala nelayan agar tidak lekas lapuk oleh air laut. Dan Kata “Manarow” itu sendiri merujuk pada sebuah Pulau yaitu Pulau Manado Tua, dimana penghuni Pulau Manado Tua ini adalah Orang-orang dari Etnis Sangir Tua yaitu Etnis Wowontehu/ Bowontehu/ Bobentehu. 

Wowontehu/ Bowontehu/ Bobentehu itu berasal dari bahasa Sangir Tua yaitu “Bowong artinya Atas dan Kehu artinya Hutan. jadi Wowontehu/ Bowontehu/ Bobentehu adalah sebuah Kerajaan yg terletak diatas Hutan yg Rajanya disebut Kulano. Kemudian pada sekitaran abad 14-15, kaum Wowontehu/ Bowontehu/ Bobentehu itu melakukan perpindahan ke daratan tanah Minahasa. Perpindahan dilakukan dengan menggunakan perahu (Bininta), melalui tempat yg bernama "Tumumpa di Tuminting Manado Utara" dlm bahasa Sangir yg artinya "Turun sambil melompat, kemudian menetap di Singkil berasal dari bahasa Sangir Tua disebut "Singkile artinya pindah/menyingkir." Mereka menyebar sampai ke Pondol yg dalam bahasa Sangir disebut Pondole artinya di Ujung. (Pondol sekarang berada dikawasan Mega Mall Manado). 

Tuturan versi lainnya juga mengatakan bahwa pada sekitar tahun 1600 Etnis Wowontehu/ Bowontehu/ Bobentehu, mereka beralih ke daratan Minahasa diteluk Manado, disebelah Selatan Sungai Tondano kira-kira di Wilayah Calaca sekarang., dan Penghunian pertama ini merupakan inti kota Manado sekarang dan menjadi Negeri Baru sebab pada waktu itu Kota Manado tidak identik dgn Wenang, akan tetapi Negeri Manado sampai kira-kira Tahun 1830 hanya merupakan sebagian dari Calaca Barat dan wilayah Pelabuhan Manado dan sebelah Utara dari Pasar 45 sekarang. Oleh sebab itu diseputaran wilayah Calaca, Pelabuhan dan Pasar 45 dari dulu disebut “Bendar” atau “Bandar” atau “Pelabuhan” yaitu tempat Orang-orang dari Minahasa dan Sangir Tua, dan juga para pendatang lainnya seperti Etnis Tionghoa, Arab, Gorontalo dan Bolmong melakukan Barter Dagang.

Mengingat eratnya penamaan lokasi diatas dengan urusan perdagangan, maka dapatlah dikatakan bahwa nama Manado mulai dikenal dunia luar sejalan dengan ramainya kegiatan perdagangan dimasa itu. Bersamaan dengan itu pula masuklah pengaruh bahasa Melayu yang dibawah oleh pedagang nusantara. Bahasa itu sering digunakan dan disebut bahasa Melayu Pasar yang sekarang ini telah berkembang menjadi bahasa Melayu Manado. Deklarasi di Watu Pinabetengan menandai awal pembagian Tanah Adat bagi Etnis-etnis Minahasa tersebut dimana Etnis Tounsea, Toumbulu, Tountemboan, Toulour, Tounsawang, Pasan,Panosakan mendiami Daratan Minahasa, Etnis Bantik mendiami wilayah pesisir Kota Manado dan Etnis Wowontehu/ Bowontehu/ Bobentehu mendiami Pulau Manado Tua, Pulau Siladen, Pulau Bunaken, Pulau Mantehage, Pulau Nain, Pulau Talise, Pulau Gangga, Pulau Bangka dan Pulau Lembeh serta daerah pesisir Daratan Minahasa lainnya. 

Tahun 1658, VOC membuat sebuah benteng di Manado. Sejarah juga mencatat bahwa salah satu Pahlawan Nasional Indonesia, Pangeran Diponegoro pernah diasingkan ke Manado oleh pemerintah Belanda pada tahun 1830. Biologiwan Inggris Alfred Wallace juga pernah berkunjung ke Manado pada 1859 dan memuji keindahan kota ini. Keberadaan kota Manado dimulai dari adanya besluit Gubernur Jenderal Hindia Belanda tanggal 1 Juli 1919. Dengan besluit itu, Gewest Manado ditetapkan sebagai Staatsgemeente yang kemudian dilengkapi dengan alat-alatnya antara lain Dewan gemeente atau Gemeente Raad yang dikepalai oleh seorang Walikota (Burgemeester). Pada tahun 1951,Gemeente Manado menjadi Daerah Bagian Kota Manado dari Minahasa sesuai Surat Keputusan Gubernur Sulawesitanggal 3 Mei 1951 Nomor 223. Tanggal 17 April 1951, terbentuklah Dewan Perwakilan Periode 1951-1953 berdasarkan Keputusan Gubernur Sulawesi Nomor 14. Pada 1953 Daerah Bagian Kota Manado berubah statusnya menjadi Daerah Kota Manado sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 42/1953 juncto Peraturan Pemerintah Nomor 15/1954. Tahun 1957, Manado menjadi Kotapraja sesuai Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1957. Tahun 1959, Kotapraja Manado ditetapkan sebagai Daerah Tingkat II sesuai Undang-Undang Nomor 29 Tahun 1959. Tahun 1965, Kotapraja Manado berubah status menjadi Kotamadya Manado, yang dipimpin oleh Walikotamadya Manado KDH Tingkat II Manado sesuai Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1965 yang disempurnakan dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974. 

Hari jadi Kota Manado yang ditetapkan pada tanggal 14 Juli 1623, merupakan momentum yang mengemas tiga peristiwa bersejarah sekaligus yaitu tanggal 14 yang diambil dari peristiwa heroik yaitu peristiwa Merah Putih 14 Februari 1946, dimana putra daerah ini bangkit dan menentang penjajahan Belanda untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia, kemudian bulan Juli yang diambil dari unsur yuridis yaitu bulan Juli 1919, yaitu munculnya Besluit Gubernur Jenderal tentang penetapan Gewest Manado sebagai Staatgemeente dikeluarkan, dan tahun 1623yang diambil dari unsur historis yaitu tahun dimana Kota Manado dikenal dan digunakan dalam surat-surat resmi. Berdasarkan ketiga peristiwa penting tersebut, maka tanggal 14 Juli 1989, Kota Manado merayakan HUT-nya yang ke-367. Dan sejak saat itu hingga sekarang tanggal tersebut terus dirayakan oleh masyarakat dan pemerintah Kota Manado sebagai hari jadi Kota Manado. Kota ini juga pernah mengalami kerusakan berat karena peperangan yaitu ketika pada masa Perang Dunia II, dan ketika dibom kembali oleh TNI Angkatan Udara pada 1958 dalam upaya mengalahkan Permesta, sebuah gerakan pemberontakan yang menghendaki pemisahan dari Republik Indonesia.

Rabu, 02 Juni 2010

Musik Zaman Barok (1600-1750)

Kata Barok (Baroque) dalam
beberapa waktu sepanjang sejarah kadang berarti aneh, sangat penuh dengan
hiasan, rumit, berbelit-belit, berlebihan serta memenuhi tempat dan wadah, baik
dengan tindakan, gerakan, bunyi, hiasan dan warna. Zaman Barok menandai akhir
dari zaman Renaissance (kelahiran kembali) dan masuk kedalam zaman yang lebih
bersifat feodal dan aristokratis. Zaman ini dimulai tahun 1600 dan diakhiri
dengan tahun 1750 dengan wafatnya Johann Sebatian Bach, seorang komponis
kenamaan zaman Barok (1685-1750). Manusia dalam zaman Barok tidak hanya sekedar
melihat kemanusiaannya serta keberadaanya secara seutuhnya sebagaimana dalam zaman
Renaissance dengan humanism nya, manusia
dalam zaman barok mulai memeprhatikan perasaan dan imaginasi (affectus dan fantasi),
manusia dalam zaman barok tidak segan-segan untuk menggali kemanusiaan dan jiwa
seni bahkan sampai memperluas realitas hidup. Oleh karena itu sifat kesenian
dalam zaman ini seakan akan menampilkan sebuah ilusi total yang melebihi dari
realita sesungguhnya (contoh altar gereja yang dihias sedemikan rupa rumitnya
sehingga menyerupai surga yang terbuka, melebihi fungsi fungsionalnya sebagai
meja/mezbah sederhana). Masyarakat dalam zaman masih mempertahankan sistem
feodalisme dengan strata sosial terurut demikan: Raja, Bangsawan, Rohaniwan
(intelektual), penduduk kota (pedagang) dan petani. Kebanyakan karya seni baik
seni rupa, seni lukis dan terutama juga seni musik menjadi kegemaran serta
bagian kehidupan sosial bagi masyarakat barok khususnya Raja, Bangsawan dan
Rohaniwan, sehingga banyak karya-karya seni terkenal meupakan persembahan dan
pesanan bagi ketiga golongan utama dalam maysrakat barok. Kebanyakan Raja dan
Bangsawan memerintah secara absolute. Selain aristokrat, gereja banyak
menggunakan seni barok untuk membuat ibadat lebih atratktif, berkesan dan
surgawi. Bangsa eropa saat ini dibagi menjadi dua golongan: Umat Katolik dan Umat Protestan. Seniman-seniman yang
terkenal pada zaman ini seperti: Rembrandt, Rubens dan Bernini
Musik
Barok
Dalam seni musik, gaya barok
berkembang dengan pesatnya tahun 1600-1750, dengan dua raksasa musik yang
terkenal G.F. Handel dan Johann Sebastian Bach, musisi yang terkenal lainnya
seperti Claudio Monteverdi, Henry Purcell, Arcangelo Corelli dan Antonio Vivaldi,
walaupun terkenal di zamannya, tetapi tidak seterkenal lintas zaman seperti
Bach dan Handel. Musik Barok dapat dibagi menjadi 3 bagian
1. Musik
Barok Awal (1580-1630)
2. Musik
Barok Pertengahan (1630-1680)
3. Musik
Barok Akhir (1680-1750)
Padas masa Barok awal kebanyakan
komponis menyukai karakteristik homophonic dibandingkan dengan karakter
poliphonik Renaissance, kebanyakan music hanya menggunakan satu melodi diiringi
dengan iringan chord (Aria dan Recitative). Pada masa pertengahan musik
barok bentuk musik baru mulai menjalar di eropa, tangga nada mayor dan minor
menjadi dasar komposisi, dalam zaman ini mulai banyak komponis yang
menggubah karya musik instrumentalia (tanpa vokal), banyak komposisi bagi
instrumen tertentu, paling banyak adalah gubahan untuk biola, dalam periode
ini. Diakhir zaman barok, poliphoni yang jauh lebih rumit menjadi kebanyakan
pilihan para komponis, musik instrumen menjadi sama pentingnya dengan musik
untuk vokal, kebanyakan musik barok yang diketemukan saat ini adalah, musik
barok dari zaman akhir barok (1680-1750).

Karakteristik
Musik Barok
Kesatuan
Ekspresi
Sebuah karya musik barok biasanya
menyatakan satu ekspresi dasar, apabila sebuah karya diawali dengan ekspresi
emosi yang gembira maka ekspresi musik ini akan tetap sampai akhir karya musik
tersebut. Hal ini terutama dapat diketemukan dalam karya musik vokal.
Perubahan ekspresi biasanya diikuti dengan perubahan musiknya juga (musik
diakhiri dan dimulai lagi dengan ekspresi yang berbeda)
Ritme
Dalam musik Barok, ekspresi yang
tetap biasanya disampaikan dengan pola ritme yang terus berlanjut dan cenderung
diulang ulang.
Ritme dan irama lebih ditekankan dibanding dalam musik renaissance.
Melodi
Melodi Barok cenderung
menciptakan perasaan yang berkelanjutan, melodi tema akan diulang terus menerus dalam
sebuah karya musik barok walaupun dalam bentuk yang bervariasi karakter melodi
tema lagu tidaklah berubah banyak
Dinamika
Dalam Musik Barok dinamika
tidaklah berubah secara tiba tiba tetapi bertahap, tetapi walaupun demikian para
penyanyi dan pemain instrumen dalam praktiknya kerap membuat perubahan yang
cukup nyata guna mengekspresikan emosi dalam sebuah karya musik
Textur/Pola
Terutama dalam masa akhir musik
Barok kebanyakan berupa musik musik Poliphony didalam pola musiknya, pola
poliphony yang terdapat dalam musik barok berbeda dengan textur poliphony dalam
musik renaissance. Dalam musik barok terdapat satu atau dua melodi tema yang
berkejar kejaran atau saling berdialog dengan satu sama lainnya, dalam hal
ini biasanya bagian treble (sopran) berdialog dengan bagian bass, dan melodi
utama keduanya diulang ulang, ini menjadi pola dasar poliphony yang digemari.
Word
Painting
Sebagaimana dengan pendahulunya,
musik renaissance, musik barok juga menggunakan tehnik yang sama dalam pengekspresian
musik, yaitu menggunakan word painting, notasi yang disesuaikan dengan
kata-kata, tetapi dalam masa Barok word painting tidak hanya sekedar
menggunakan notasi tetapi juga menggunakan emosi lagu, sehingga lagu-lagu
yang bertemakan kesedihan dan penderitaan pada contohnya akan menggunakan
tangga nada dan musik yang sesuai.
Basso
Continuo
Penggunaan Chord (trinada) menjadi
sangat penting dalam musik barok. Dalam masa barok seluruh struktur musik ada
pada bagian bass. Dalam permainan musik keyboard (Clavichord/Harpsichord) penggunaan chord biasanya akan mengiringi alur melodi Bass. Tehnik permainan
chord (trinada) dengan melodi bass biasa disebut dengan istilah Basso Continuo.
Dengan demikian tehnik permaianan Basso Continuo ini menjadi pengiring utama
dalam seluruh karya musik zaman barok.
Zaman Barok disebut juga sebagai
Zaman Keemasan Basso Continuo.
Ensemble Basso Continuo biasanya
dimainkan oleh dua alat musik, alat musik bass (Cello, Basoon, Contra Bass
dll.) dan alat musik keyboard (alatmusik yang berpapan tuts) dalam zaman ini
adalah harpsichord (untuk musik sekular) dan organ pipa (untuk musik sakral).

Bentuk-Bentuk
Musik
Concerto
Grosso
Sebuah Orkes Musik dalam Musik
Barok biasa disebut dengan istilah Musik Kamar (Chamber Orchestra). Dalam sebuah
orkes kamar biasa dibagi menjadi dua bagian pemusik: group besar dan group
kecil. Paduan musik semacam ini biasa disebut dengan Concerto Grosso. Concerto
Grosso adalah sebuah group kecil pemusik yang berperan sebagai Solis – bermain/berdialog
musik dengan group besar pemusik yang
disebut Tutti (Bahasa Italia: Semua) dalam
satu orkes kamar. Dialog antara Solis dan Tutti biasanya adalah dialog
antara dua melodi tema yang dimainkan secara bergantian oleh kedua belah pihak
pemusik, tehnik permaian seperti ini dinamakan Bentuk Ritornello.
Fuga
Fuga adalah sebuah komposisi poliphony
yang berdasarkan sebua tema melodi utama yang disebut sebagai Subyek. Dan dalam sebuah Fuga: Subyek akan
diimitasikan oleh melodi-melodi lain (imitasi dari Subyek). Melodi-melodi
lain ini disebut dengan Suara (Voices).
Opera
Walaupun dimulai pada zaman
Renaissance, tetapi berkembang dengan pesatnya pada zaman barok. Opera dalam
zaman barok adalah Drama yang dinyanyikan dengan iringan orkes. Sebuah opera
dalam zaman ini merupakan kolaborasi antara dramawan dan komponis, dramawan
opera disebut dengan istilah Librettist. Seorang Librettist akan membuat teks
drama sesuai dengan musik yang digubah oleh komponis.
Trio
Sonata
Sonata adalah sebuah gubahan
musik yang terdiri dari dua atau tiga bagian, masing masing dengan karakter dan
tema yang berbeda. Komposisi ini untuk satu sampai delapan instrumen alat
musik. Trio Sonata adalah sebuah sonata untuk tiga melodi: dua melodi tinggi
(treble) dan satu basso continuo (bass). Treble bisa berupa biola, flute, oboe
dll. dan basso continuo: cello atau viola di gamba (cello zaman barok) dengan
harpsichord. Jadi trio sonata biasa di mainkan oleh empat alat musik.
Suita
Sebuah komposisi besar yang
terdiri dari beberapa lagu dengan irama irama tertentu, lagu –lagu yang dipakai
adalah lagu-lagu dansa yang mempunyai asal dari negara-negara yang
berbeda-beda. Sebuah komposisi suita
bisa digubah untuk sebuah orkes kamar, atau juga bisa digubah untuk satu alat
musik. Contoh sebuah suita dengan lagu-lagu (dansa):
1. Overture
(lagu pembukaan)
2. Gavotte
3. Minuet
4. Bourree
5. Gigue

Cantata
Cantata merupakan sebuah karya
yang dinyanyikan, (selalu menggunakan vokal), dan biasanya sebuah kantata
adalah sebuah karya musik gerejawi. Sebuah cantata biasanya dinyanyikan dalam
ibadat gereja reformasi (Protestant). Sebuah cantata dalam zaman barok biasanya
berdasarkan ayat-ayat dari Kitab Suci dan himne-himne jemaat. Sebuah cantata
biasanya digubah untuk sebuah paduan suara, solis vokal , organ pipa dan orkes
kamar.
Komponis-Komponis
Zaman Barok
1. Johann
Sebastian Bach
2. George
F. Handel
3. Henry
Purcell
4. Antonio
Vivaldi
5. Giovani
Baptista Pergolesi
6. Jean
P. Remeau
7. Johann
G. Walther
8. Arcangelo
Corelli
9. Claudio
Monteverdi

Musik Zaman Renaissance (1400/1450-1600)

Musik Renaissance adalah musik eropa barat yang berkembang pada masa
Renaissance. Zaman Renaissance yang dalam bahasa Perancis berarti “kelahiran
kembali” adalah sebuah zaman yang berkisar dari awal abad ke 14 dan sampai
kepada abad ke 17. zaman Renaissance bermula di negara Italia di akhir abad
pertengahan dan menjalar ke seluruh eropa.
Zaman Renaissance
berpusar kepada kebangkitan intelektual yang berdasarkan sumber-sumber klasik.
Pada zaman ini kepausan dan para bangsawan menjadi pelindung dari kesenian dan
juga politik negara, terdapat juga kebangkitan dalam seni rupa dan seni lukis
serta pada zaman ini juga terjadi kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan.
Pada Zaman Renaissance
terdapat berbagai usaha intelektual untuk menggali kemanusiaan secara seutuhnya
dengan kemurnian awal yang menjadi titik ukur pengertian Humanisme awal dalam
filsafat barat, humanisme juga melahirkan banyak keindahan artisitik seni yang
tinggi dan terbuka. Hal ini dapat dilihat dari kontribusi para seniman Renaissance
yang terkenal seperti Leonardi Da Vinci, Michielangelo dan Raphaello.

Musik Renaissance
Dalam masa Renaissance sebagaimana dengan Zaman Abad Pertengahan, musik
Vokal dianggap jauh lebih penting dari musik Instrumental. Sebagaimana pada
perkembangan filsafat dalam zaman ini, berkembang falsafah humanisme, maka
interst humanistik juga terjadi dalam musik, sehingga terjadi hubungan yang
erat antara kata-kata (lirik) dan vokal. Para komponis Renaissance membuat musik untuk menekankan arti dan emosi dari teks
lagu. Seorang Musikolog Italia yang bernama Zarlino mengatakan “ ketika kata
dari sebuah lirik lagu menyatakan: ratapan, kesakitan, patahy hati, erangan dan
tangisan maka biarlah harmoni dari lagu tersebut penuh dengan kesedihan”. Para
Komposer Renaissance sering menggunakan lukisan kata-kata, yaitu sebuah
representasi musik dari gambaran puitisasi tertentu. Contoh kata-kata puitis
seperti “naik kesurga” biasanya akan diwakili dengan serangkaian notasi yang
meninggi dst. Dalam musik gereja, alat
musik yang masih terus dan diijinkan penggunaanya hanyalah organ pipa.

Karakteristik dan Texture dari
Musik Renaissance
Texture dari msuik Zaman renaissance yang terutama adalah perkembangan
dengan pesat dari musik Poliphoni. Sebuah lagu Choral secara tipikal mempunyai
empat, lima atau enam suara dengan interest melodi yang sejajar, masing-masing suara
mempunyai tema melodi yang sama yang muncul bergantian sebagaimana musik jenis
Kanon. Musik Renaissance lebih penuh dari musik abad pertengahan. Dalam
kebanyakan musik Renaissance penggunaan interval ketiga (terts) sebagai
konsonan merupakan sebuah “idiom” atau kebiasaan musik yang digemari pada zaman
awal renaissance. Idiom ini membuat musik renaissance terdengar santai karena
stabil dan kaya dalam harmoni.
Dalam zaman ini Register
Bass pertama kali digunakan, sebagai musik dasar dari sebuah lagu, dan
kebanyakan Register Bass mempunyai range
nada sebanyak 4 oktaf sehingga dapat menghasilkan harmoni yang kaya bagi lagu
tersebut.
Musik Choral dalam masa
Renaissance tidak memerlukan pengiring instrumental, sehingga kebanyakan ahli
musik mengatakan bahwa zaman renaissance adalh zaman emas bagi Musik A Capella
(musik tanpa iringan), walaupun demikian kadang penggunaan alat musik masih sering
tergunakan untuk mengiringi musik vokal., tetapi penggunaan instrumen musik
dalam musik choral hanyalah untuk memperjelas garis vokal sehingga dapat mengisi
kekosongan penyanyi yang kebetulan tidak datang. Tetapi iringan musik bagi
musik vokal (choral) sangatlah jarang.

Musik Sakral
Dua bentuk utama dalam musik sakral adalah motet dan misa, keduanya
hampir mirip dalam gaya, hanya saja misa adalah sebuah komposisi
yang lebih panjang dibandingkan motet. Motet Renaissance adalah sebuah karya
musik choral polyphoni yang terset kan sesuai dengan teks latin diluar ordinarium missa. Sedangkan Misa Renaissance adalah sebuag komposisi
choral polyphoni yang terdiri dari lima bagian: Kyrie, Gloria, Credo, Sanctus dan Agnus Dei. Bentul musik sakral
Renaissance yang lain adalah Madigrale Spirituale dan Laude, bentuk bentuk ini
kurang berkembang dibandingkan bentuk Motet dan Missa.

Tokoh-Tokoh Musik Sakral dari
Zaman Renaissance
Josquin Desprez (1440-1521)
Giovani Perluigi Palestrina (1525-1594)
Johannes Ockeghem (1410-1497)


Musik Sekular
Selama zaman Reniassance musik sekular vokal sangatlah menjadi terkenal
di seluruh Eropa Barat, musik di setkan kepada puisi/pantun dalam berbagai macam bahasa seperti: Italia, Perancis,
Jerman, Spanyol, Belanda dan Inggris. Musik Sekular Renaissance biasa digubah
untuk sebuah group vokal atau solo vokal dengan iringan satu atau lebih
instrumen musik. Banyak komponis mengimitasi suara alam seperti kicauan burung
atau teriakan serta pekikan
Jenis musik yang terpenting dalam
musik vokal zaman Renaissance adalah Madrigal, Madrigal adalah sebuah karya
musik vokal untuk solo, atau beberapa suara solo (one voice per part, satu
suara penyanyi untuk setiap bagian suara) yang di setkan untuk sebuah puisi kecil yang singkat biasanya tentang cinta. Seperti Motet, Madrigal menggunakan kombinasi antara
poliphoni dan monophoni, tetapi tidak seperti motet, madrigal menggunakan
lukisan kata-kata dan harmonisasi yang cukup berbeda dengan motet. Seni
Madrigal Renaissance bermula di Italia skitar tahin 1520-an ketika saat itu
terjadi kebangkitan semngat sastra puisi dalam kesusastraan itali, saat itu
untuk menunjang kebangkitan ini, dipublikasikan madrigal sebanyak ribuan dan
kebanyakan dinyanyikan oleh golongan aristokrat dan bangsawan. 1588 dengan
kekalahan Armada Spanyol terhadap Militer Inggris, beberapa banyak Madrigal
italia diterjemahkan ke bahasa Inggris sehinggabanyak komposer Inggris yang
mulai menciptakan Madrigal juga, dan berlangsung selama lebih dari 30 tahun,
pada zaman pemerintahan Ratu Elizabeth I (1533-1603) dan William Shakespeare
(1564-1616) merupakan zaman keemasan baik bagi tradisi Madrigal Inggris ataupun
Kesusatraan Inggris. Jikalau di Italia liriknya kebanyakan serius sedangkan di
Inggris kebanyakan liriknya humoris dan ringan. Jenis musik lain selain Madrigal:
frottola, caccia, chanson (rondeau, virelai, bergerette, ballade, musique
mesurée), canzonetta, villancico, villanella, villotta, lute song. motet-chanson atau motet sekular.

Musik Abad Pertengahan (450 M – 1450)

Musik abad ini bermula pada
Gereja Roma Katolik di Barat (Eropa Barat). Musik ini digunakan dalam ibadat
terutama di Katedral dan biara, biasa dinyanyikan oleh para biarawan/wati.
Musik Gereja Abad Pertengahan biasa disebut dengan istilah Musik Gregorian,
yang bersifat plainchat (musik
polos). Tidak diketahui secara pasti bagaimana menyanyikan musik ini, karena
yang ada hanya dokumentasi musik tertulis mengenai musik abad pertengahan,
kebanyakan dokumentasi msuk pada zaman abad pertengahan awal adalah untuk musik vokal.
Sedikit
saja manuskrip yang memberikan petunjuk penggunaan instrumen musik, hanya dari
ilustrasi manuskrip serta lukisan-lukisan abad pertengahan yang memberikan
petunjuk penggunaan instrumen musik dalam abad awal. Pada masa ini Gereja tidak
mengijinkan penggunaan alat musik dalam ibadat karena pada awalnya penggunaan
alat musik biasa digunakan oleh kaum penyembah berhala bagi ritus ibadat mereka
bagi para dewa. Baru setelah tahun 1100 instrumen musik mulai diperbolehkan
penggunaannya dalam gereja: Orgel Pipa. Pada masa ini musik biasa terbagi dalam
dua pembagian: Musik Sakral dan Musik Sekular.

Pada masa ini terdapat sebuah
perkembangan budaya Gereja Barat yang disebut dengan Budaya Gothik dimana
berkembang dengan pembangunan katedral-katedral bergaya Gothik. Dalam
perkembangannya kota pada abad pertengahan selalu berkembang dari biara/gereja. Pembangunan kota biasanya selalu
mengelilingi gereja/biara sebagai pusatnya, para biarawan/wati selalu dianggap
sebagai kaum intelektual, sebagai mereka yang menyalin (melek huruf) Kitab
Suci, menjadi suatu kelaziman untuk mendapatkan pembangunan sekolah dan
universitas dilakukan oleh penduduk biara atau melekat dengan kegiatan hidup
membiara di abad pertengahan. Pada masa ini terdapat tiga kelas sosial yang
menjadi tatanan hidup khususnya bangsa eropa barat di zaman abad pertengahan:
Kaum Bangsawan, Kaum Rohaniwan/wati dan Kaum Petani/Pedagang.

Musik Sakral
Pada masa ini musik sakral biasa
disebut juga dengan istilah musik Plainchant
atau musik lagu polos, yatitu musik vokal monofoni
dengan syair bahasa latin yang dinyanyikan tanpa iringan. Musik plainchant ini
digunakan bagi beribadat baik dalam misa ataupun ibadat harian (ofisi).
Musik
plainchant disebut juga Musik Gregorian, berdasarkan nama dari tokoh musik
plainchant yang terkemuka yaitu St. Gregorius Agung yang bertahkta sebagai Paus
Roma dari tahun 590-604 Masehi. Musik Gregorian tadinya merupakan sebuah
tradisi oral yang pada akhirnya di dokuemntasikan dengan menggunakan notasi
awal. Karakteristik dari musik
gregorian adalah : Non Metrikal (tidak berbirama) dan memakai Tangga Nada
Gerejawi. Karakteristik musik plainchant ada yang Resitatif (sederhana) ada
juga yang Melismatis (rumit) ada juga yang merupakan kombinasi dari keduanya.
Sebagai contoh jelas mengenai karakteristik musik plain chant, nyata dalam
penggunaannya dalam ibadat: musik untuk misa biasanya lebih rumit dibandingkan
musik untuk ibadat harian. Tangga
nada gerejawi atau modus gerejawi: Doris, Frigis, Lydis, Mixolydis.


Musik Sekuler
Seperti dengan musik sakral,
musik sekuler juga berkembang pada mulanya secara tradisi oral, yang menjadi
musik populer, yang syairnya ditulis oleh penyair musik. Di Perancis Selatan
dengan istilah Troubadours, di Perancis Utara dengan istilah Trouvers dan
Minnesinger di Jerman dan Austria Isi dari musik-musik populer dari jaman ini biasanya bertemakan kepahlawanan
atau perjuangan sebagaimana pada masa ini terdapat banyak perang-perang
terutama perang salib, tema lain yang disukai adalah tentang cinta atau romantisme, biasa berupa pujian atau
keluhan dari kekasih kepada pasangannya, tema lain yang cukup berkembang
lainnya adalah Lamentatio atau sebuah kidung ratapan mengenai kematian dari
bangsawan atau orang yang disegani atau dikasihi. Contoh jenis musik sekuler
dalam masa ini: Alba (nyanyian pagi), Pastourelle (nyanyian gembala) dan
Estampie (musik dansa)

Perkembangan Musik Monofoni (Perkembangan
menuju musik polifoni)
Musik pada zaman ini bermula
dalam bentuk yang sederhana dan pada akhirnya mulai terjadi sebuah evolusi
pergeseran dengan menambahkan melodi lain kepada bentuk monofoni yang sudah
ada, hal ini membuat musik monofoni berkembang menjadi bentuk musik polifoni.
Bentuk awal musik polifoni dalam zaman abad pertengahan adalah: musik organum.
Musik organum adalah terdiri dari melodi plainchant yang ditambahkan rangkaian
nada lain yang dibunyikan pada waktu yang bersamaan. Jenis musik ini berkembang
di Katedral Notre Dame, Paris, Perancis yang dibangun tahun 1163-1235, tipe
karakteristik polifoni yang dihasilkan masilah sangant sederhana.

Tokoh-Tokoh Penting Musik Abad
Pertengahan

St.Gregorius Agung (590-604)
St.Hildegard dari Bingen (1098-1179)
Guillaume de Machaut (1300-1377)
Francesco Landini (?-1397)

Selasa, 26 Januari 2010

Sekilas Joe Satriani

Joseph "Satch" Satriani dilahirkan di Westbury, New York, AS pada 15 Juli 1956. Ia mulai tertarik belajar gitar pada usia 14 tahun setelah mendengarkan lagu-lagu Jimi Hendrix. Tahun 1974, Joe sempat menimba ilmu musik dari Billy Bauer, seorang gitaris jazz serta seorang piano jazz Lennie Tristano. Tahun 1976, joe pindah ke Berkeley, California untuk berkonsentrasi pada karir bermusiknya. Di era inilah Joe mulai belajar gitar. Hingga hari ini, Joe dikenal sebagai guru dari beberapa gitaris ternama seperti Steve Vai, Kirk Hammett (Metallica), David Bryson (Counting Crows), Kevin Cadogan (Third Eye Blind), Larry LaLonde (Primus, Possessed), Alex Skolnick (Testament) hingga Rick Hunolt (Exodus).
Tahun 1987, nama Joe Satriani melambung berkat album 'Surfing with the Alien'. Ia pun langsung digamit oleh Mick Jagger sebagai gitaris band tur solonya. Akhir tahun 1993, giliran band rock legendaris Deep Purple yang merekrutnya. Joe menggantikan pihak Ritchie Blackmore yang hengkang saat band tersebut menggelar tur di Jepang. Tiga tahun kemudian, Joe membentuk dan menggelar tur G3 yang menampilkan Steve Vai dan Eric Johnson. Sampai saat ini, selain Steve Vai dan Eric, G3 sudah pernah pula menampilkan bintang tamu besar seperti Yngwie Malmsteen, John Petruccy, Kenny Wayne Shepherd, Robert Fripp, Uli Jon Roth, Michael Schenker, Adrian Legg dan Paul Gilbert. 'Surfing with The Alien' diliris ulang oleh laber Epic/Legacy Recordings pada 7 Agustus 2007 untuk merayakan ultah ke-20 album tersebut. Di dalam kemasannya, turut disertakan pula rekaman video DVD saat Joe tampil di "Montreux Jazz Festival" (1988).
Sebagai gitaris berkapasitas shredder, Joe yang telah mengantongi angka penjualan album sebesar lebih dari 10 juta keping serta 14 nominasi Grammy Award ini dikenal sangat lihai menerapkan beberapa teknik sulit dalam permainan gitar rock, seperti permainan legato, two-handed tapping, sweep-picking, volume swells, harmonics dan eksplorasi whammy bar yang ekstrim.

Diskografi solo :
Not of This Earth - 1986
Surfing with the Alien - 1987
Dreaming #11 (EP) - 1988
Flying in a Blue Dream - 1989
The Extremist - 1992
Time Machine - 1993
Joe Satriani - 1995
Crystal Planet - 1998
Engines of Creation - 2000
Strange Beautiful Music - 2002
The Electric Joe Satriani : An Antholgy - 2003
is There Love in Space? - 2004
Super Colossal - 2006
Satriani Live! - 2006
Professor Satchafunkilus and the Musterion of Rock - 2008


(GitarPlus Edisi Juni 2008)

Rahasia Sound Bullet For My Valentine

Bullet For My Valentine (BFMV) adalah band metal asal wales, inggris yang sedang berkibar kencang di kancah musik cadas dunia saat ini. Album keduanya. 'Scream Aim Fire' (Jive/Zomba/SonyBMG) melesat langsung ke posisi keempat terlaris di Amerika sejak diliris menurut perhitungan Billboard Top 200. Sementara di negara lain, album yang di produseri Colin Richardson (Machine Head, Funeral For A Friend) tersebut berhasil masuk lima besar terlaris. Peringkat teratas di jepang, No. 3 di jerman dan Austria, No. 4 di Australia dan No. 5 di Inggris. Menyusul kesuksesan itu, BFMV telah melewati banyak tur konser bergengsi, mendampingi band-band besar macam Metallica, Guns 'N' Roses dan Rob Zombie.
Jika di bandingkan dengan album debut 'The Poison' (2005), Matthew "Matt" Tuck (vokal/gitar) dan Michael "Padge" Paget (gitar) menyebut garapan musik di 'Scream Aim Fire' (juga telah diliris di Indonesia oleh Sony BMG) jauh lebih uptempo dan agresif. "Karena kami ingin membuat (album) rekaman yang lebih keras, " tandas keduanya.
Saat ini, BFMV sedang sibuk-sibuknya menjalani tur promo untuk album 'Scream Aim Fire'. Di tur tersebut, Matt dan Padge memboyong instrumen andalan terbarunya masing-masing untuk memggeber lagu-lagu dari album 'The Poison' dan 'Scream Aim Fire'. Mau tahu apa saja yang mereka bawa? Berikut ulasannya :

Matt Tuck
Jaringan sound Matt Tuck terbilang sederhana. Dari gitar, ia langsung menghubungkannya lewat sinyal tanpa kabel (wireless) ke Sennheiser EW300. Setelah itu, sinyal di teruskan ke pedalboard yang berisi Boss TU-2 chromatic tuner, dua buah Boss NS-2 noise supressor, Ibanez TS-9 tube screamer, Morley Bad Horsie wah serta Peavey channel switcher untuk head ampli. Rangkaian stompbox tersebut langsung dihubungkan ke dua head ampli Peavey 6505 (satu untuk cadangan) yang kemudian disemburkan lewat dua cabinet Mesa Stiletto 4x12.
O ya, gitar yang paling sering dipakai Matt di panggung adalah Jackson Randy Rhoads RR1T berwarna hitam serta gitar cadangan Jackson RR1T USA Custom Shop (reverse headstock) berwarna paduan hitam dan putih. Kedua gitar tersebut memakai senar Rotosound (.010, .013, .017, .030, .042, .056) dengan tuning Drop D (turun satu nada) menjadi C-G-C-F-A-D.
Pickup kedua gitar tersebut menggunakan Seymour Duncan JB (bridge) dan Seymour Duncan Jazz (neck). Di beberapa kesempatan, Matt juga terlihat sering meraungkan Gibson Les Paul Raw Power Standard, gitar berpickup EMG yang paling sering dipakai saat rekaman album 'Scream Aim Fire'. Belakangan, Matt mulai memamerkan pula gitar signature modelnya yang menggunakan pickup Seymour Duncan Blackouts.
Saat beraksi di panggung, Matt selalu membiarkan pedal TS-9-nya dalam posisi hidup (on). Bahkan pada saat ia berpindah seperti yang pernah ia lakukan, tapi nyatanya sangat merepotkan. Kini, cukup dengan menginjak satu tombol di TC Electronic pedalboard, ia bisa mengaktifkan efek apa saja (tentunya telah terprogram sebelumnya) yang ia inginkan.
Cara kerja selengkapnya kira-kira begini. Sinyal dari gitar dikirim langsung ke EW300 yang ada di rak. Kemudian untuk mendapatkan sound yang diinginkannya, Padge mengoperasikan pedalboard TC Electronic G-System yang terhubung ke rak, di mana jaringannya juga telah terkait dengan TS-9 (loop send/return). Lalu ada pula kabel dari TC ke Sound Sculpture ABCadabra MIDI A/B switcher yang bertugas menghubungkan TC ke Ebtech Hum Eliinator. Ebecth sendiri juga dihubungkan ke ampli combo Roland JC-120 Jazz Chrous yang dipakai Padge untuk mendapatkan suara clean. Nah, proses perpindahan dari channel dirty sound ke clean tersebut dilakukan oleh Kev Papworth, teknisi Padge dengan menggunakan Roland MIDI foot controller (lewat jalur kabel MIDI) dari belakang panggung.
Selain itu Ebtech juga mengirim sinyal suara ke head Mesa/Boogie setelah sebelumnya melewati sebuah noise supressor (Boss NS-2). Dari head, sinyal suara permainan gitar Padge lantas dipancarkan melalui cabinet Mesa/Boogie 300-watt 4x12. Sekedar tambahan informasi, saat proses rekaman 'Scream Aim Fire', Padge juga menggunakan ampli Bogner (disamping Mesa/Boogie) untuk mendapatkan sound rythm yang diinginkannya.
Di atas panggung, Padge juga mengoprasikan sebuah chromatic tuner (Boss TU-2) dan Dunlop SW-95 Slash wah yang terhubung dengan EW300, namun pengaktifannya diprogram melalui TC Electronic yang ada di rak.
Sama halnya Matt, Padge juga kini lebih banyak menggeber gitar barunya, ESP Signature Model berwarna hitam di panggung. Sebagai cadangan dan untuk kepentingan di lagu tertentu, Padge juga membawa dua gitar sejenis dengan spesifikasi sama. Sama-sama menggunakan pickup EMG 81 (bridge) dan EMG 85 (neck) serta senar Rotosound berukuran persis sama dengan gitar Matt Tuck. Untuk tuning, Padge menggendorkan senarnya satu nada lebih rendah dari ukuran standar, menjadi D-G-C-F-A-D. Tapi satu gitar lagi menggunakan tuning yang berbeda, yakni Drop C (C-G-C-F-A-D), yang sepertinya di pakai saat menggeber lagu 'Waking the Demon' dan 'Hearts Burst Into Fire'.
Nah, sekarang kamu sudah tau 'jeroan' apa saja yang di bawa para gitaris Bullet For My Valentine ke panggung. Tinggal terserah kamu mau ditiru mentah-mentah atau menciptakan rangkaian baru yang mungkin terinspirasi dari jaringan sound mereka. Selamat bereksperimen!

Bisa juga di baca di Majalah GitarPlus edisi Juni 2008.

Senin, 25 Januari 2010